Guna meningkatkan kredibilitas ujian nasional (UN), Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan mengadakan survei sebelum pelaksanaan UN
kepada peserta. Survei ini menganalisis sejauh mana keberadaan UN dapat
mendorong semangat belajar siswa. Survei dilakukan dengan metode
sampling di 33 provinsi, dengan membagikan kuisioner kepada siswa.
Dalam kuisioner tersebut ada empat pertanyaan yang
ditanyakan pada peserta. Pertanyaan pertama adalah bagaimana perasaan
siswa menghadapi UN. 40,5 persen siswa menjawab biasa aja, 40,2 persen
menjawab tidak biasa, dan 19,3 persen menjawab sangat tidak biasa.
Pertanyaan kedua, yaitu bagaimana keyakinan siswa terhadap kelulusan UN.
25,6 persen siswa menjawab mereka tidak khawatir dan yakin lulus.
Sementara 37,2 persen menjawab khawatir, dan 37,2 persen lainnya
menjawab sangat khawatir.
Pertanyaan ketiga dan keempat memiliki korelasi
yang kuat, yaitu bagaimana tingkat kecemasan siswa menghadapi UN dan apa
pendapat mereka tentang UN. Dan dari jawaban mereka diperoleh
persentase bahwa 56 persen siswa cemas dalam mengahadapi UN dan 79,1
persen siswa terdorong belajarnya karena UN. “Itu semangat positif,
bahwa UN mendorong siswa kita untuk belajar,” kata Menteri Nuh kepada
media di gedung Kemdikbud, Jumat (20/04).
Kecemasan merupakan kondisi mental individu yang
terjadi karena adanya tantangan, tekanan, dan tuntutan untuk mencapai
tujuan tertentu. Menteri Nuh mengatakan, wajar kalau ada kekhawatiran
dan kecemasan bagi orang yang akan menjalani ujian. “Yang penting,
kecemasan mereka mendorong mereka untuk giat belajar,” tutur Menteri Nuh
Dari grafik yang dipaparkan Menteri Nuh, diketahui
bahwa 79,1 persen siswa merasa UN mendorong mereka untuk belajar. Dan
20,9 persen lainnya merasa UN tidak memiliki efek pendorong bagi mereka
untuk belajar. Menteri Nuh menilai, bagi siswa yang merasa UN tidak
mendorong mereka belajar adalah karena mereka telah benar-benar siap
sebelum UN.
Sumber : http://kemdiknas.go.id/kemdikbud/berita/271
Sumber : http://kemdiknas.go.id/kemdikbud/berita/271